Sabtu, 12 November 2011

Sepucuk Surat Untuk Tuhan

Dear God ...


                                                                                                                  
Bapa ... andai aku dilahirkan kembali ...
Aku ingin melewati masa kecilku bersama Papa, Mama & Kakak ...
Sehingga ketika aku tumbuh dewasa akan ada kenangan indah bersama mereka ...

Bapa ... Andai aku dilahirkan kembali ...
Aku ingin lebih banyak tersenyum ...
Sehingga tidak banyak air mata mengiringi perjalanan hidupku...

Bapa ... Hidup ini sangat sulit ...
Kadang aku tersenyum padahal hatiku menangis ...
Kadang aku berpura-pura tegar padahal aku lemah ...

Bapa ... Peluklah aku walau hanya sesaat ...
Yakinkan aku bahwa aku tidak pernah seorang diri ...
Sehingga aku akan tetap kuat ...
Sekalipun terkadang hidup ini melelahkan  ...

Bapa ... Terima kasih buat segalanya ..
Tawa & air mata menjadi sebuah rangkaian hidup ...
Yang harus aku jalani ...
Semoga semua hal yang telah terjadi ...
Semakin mendewasakan aku di dalam Engkau ...

Aku mengasihimu Bapa ...
Tetaplah tinggal dalam hatiku sampai aku menutup mata ...

Bumi Cendrawasih, 12 November 2011
Dari Anakmu yang terkasih

Kamis, 10 November 2011

Toraja Song, "Tangngia Bulaan"

Mission Trip In Papua Island.wmv

GREAT EASTERN, TOUR TO EUROPA

Keterbukaan adalah Awal dari Pemulihan

Tak ada satu orang pun yang jauh mengenal diri kita dengan baik selain Tuhan dan diri kita sendiri & tidak dapat dipungkiri bahwa ada begitu banyak kepahitan yang tersimpan di dalam hati, baik kepada orang tua, saudara, suami/istri, sahabat, teman kerja/ teman persekutuan bahkan kepada siapapun yang hidupnya perna bersentuhan dengan kita. Jikalau kita berpikir bahwa menyimpan kekecewaan, amarah & sakit hati bisa menyelesaikan masalah, itu adalah sebuah kesalahan terbesar dalam hidup karena secara tidak sengaja kita telah menumpuk bara di atas kepala kita sendiri & juga orang lain. Ibarat sebuah bom, hanya menunggu saat yang tepat untuk meledak.

Seperti kisah dari sepasang suami istri, awalnya terasa indah sekalipun hanya tinggal di kamar kontrakan, penghasilan pas-pasan & makan seadanya tetapi mereka tetap bisa menikmati kebersamaan karena ada cinta yang mempersatukan mereka. Namun seiring dengan waktu, cinta semakin pudar, tak ada lagi canda tawa, duduk bercerita bersama seperti yang dulu mereka lakukan. Sehingga mereka hanya menjalani rumah tangga sebatas karena komitmen dan sudah ada gadis kecil yang ada di tengah-tengah mereka.  Sepanjang dua tahun mereka menyimpan kepahitan, kekecewaan, sakit hati terhadap pasangan masing-masing, pertengkaran demi pertengkaran pun tak dapat dihindari. Sampai akhirnya suatu malam dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan pertengkaran mereka, bukan hanya sebatas perang mulut tapi juga saling memukul. melihat itu saya berusaha untuk menenangkan mereka kemudian  mengajak mereka duduk, memberikan kesempatan kepada istri dan suami secara bergantian berbicara, mengeluarkan isi hati mereka yang selama ini di pendam kepada pasangan masing-masing. Suasana akhirnya bisa tenang, dengan bercucuran air mata sang istri berbicara tentang apa yang dia alami selama 2 tahun berumah tangga ternyata ada begitu banyak kekecewaan, sakit hati terhadap suami yang seringkali sudah tidak punya waktu untuk bercerita dengan dia dan dengan wajah penyesalan sang suami berjanji akan mengubah sikapnya dan berharap sang istri juga merubah sikapnya dan siap menerima apapun kondisi mereka. sebelum meninggalkan mereka, saya mengingatkan tentang kasih mula-mula, mengingat kembali ketika mereka pertama kali bertemu, saling jatuh cinta dan akhirnya mengambil komitmen untuk hidup bersama, hendaklah kasih mula-mula itu menjadi dasar dari keluarga mereka, sehingga seberat apapun masalah yang dihadapi jikalau dihadapi bersama pasti masalah akan bisa diatasi.

Puji Tuhan, malam itu menjadi awal dari pemulihan hati mereka. hal itu pun menjadi pembelajaran yang berharga untuk saya secara pribadi, bahwa keterbukaan itu penting. jangan pernah menyimpan sesuatu kepahitan dalam hati, lebih baik berbicara apa adanya supaya bisa saling introspeksi diri masing-masing & membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi jauh lebih indah.


Bumi Cendrawasih, 10 November 2011

Kamis, 25 Agustus 2011

Ketika cinta membawa luka

Cinta adalah anugerah indah yang Tuhan berikan kepada manusia, dan tak cukup banyak kata untuk melukiskan bagaimana perasaan seseorang yang sedang jatuh cinta. Cinta bisa membuat seseorang bertindak diluar logikanya, bahkan demi cinta juga seseorang rela memberikan nyawanya untuk orang yang dicintainya.

Pada awal penciptaan manusia Tuhan sendiri melihat bahwa Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja (Kejadian 2:18) bahkan ketika Tuhan memberikan tugas kepada Adam (Manusia Pertama) untuk memberikan nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara & kepada segala binatang hutan, bagi dirinya sendiri pun dia tidak menjumpai penolong yang sepadan (Kejadian 2:20). Perasaan kesendirian yang dialami oleh manusia bukan hanya dirasakan oleh manusia itu sendiri, akan tetapi juga dirasakan  oleh Tuhan yang adalah penciptaNya. Kemudian Tuhan mengambil salah satu rusuk dari manusia pertama dan dibangunNyalah seorang perempuan, lalu dibawahNya kepada manusia itu. Suatu respon yang sangat luar biasa yang diberikan oleh manusia ketika ia berkata, "Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku" (Kejadian 2 : 23). suatu pernyataan yang sangat mendalam dari manusia laki-laki ketika menerima kehadiran perempuan, Ia menerima perempuan tersebut sebagai bagian dari dirinya sendiri yang harus dikasihi, dihargai dan dihormati seperti kepada dirinya sendiri.

Itu berarti bahwa kebutuhan untuk dicintai dan mencintai memang ada dalam diri setiap orang, seperti sayur tanpa garam demikianlah kehidupan tanpa cinta pasti rasanya akan hambar. Namun seringkali kita dipertemukan dengan seseorang yang teramat sangat berarti bahkan kita benar-benar tulus mencintai dia, mengharapkan kelak bisa hidup bersama & melewati hari tua bersama sampai maut yang memisahkan. akan tetapi kita tidak bisa menghindari kenyataan kalau pada akhirnya mimpi hanya tinggal mimpi, harapan tinggal harapan dan pada akhirnya harus membiarkan dia pergi.

Kecewa, terluka adalah hal yang tak bisa dihindari, hati siapa sih yang tidak akan terluka kalau kehilangan seseorang yang sangat dicintainya!!dan masing-masing dari kita memiliki respon yang berbeda untuk melampiaskan kesedihannya, bahkan lebih ironis lagi kalo akhirnya ada yang meregang nyawa karena kecewa oleh cinta. Memang cinta memiliki pengaruh yang sangat luar biasa dalam kehidupan manusia, akan tetapi pada intinya semua kembali kepada setiap pribadi bagaimana ia menyikapi ketika cinta membuatnya terluka.

Seseorang yang hidupnya dalam Tuhan pasti akan menyadari bahwa segala sesuatu dalam hidup ini hanyalah titipan dari Tuhan, termasuk ketika Tuhan mengijinkan kita mengenal seseorang, menjalani hari-hari bersama bahkan ketika kita menyadari perasaan yang mulai tumbuh dalam hati. Tuhan yang memberi hati untuk mencintai, maka Tuhan juga yang akan menguatkan hati ketika kita terluka karena cinta supaya kita semakin mengerti bahwa cinta sejati tidak akan pernah kita dapatkan dalam dunia ini, cinta manusia hanya terbatas pada musim dan waktu tertentu akan tetapi cinta Tuhan tidak akan pernah dibatasi oleh ruang dan waktu.

Karena itu, ketika cinta membuat kita terluka jangan pernah berpikir bahwa hidup sudah berakhir sampai disitu karena hidup akan terus berjalan, jangan pernah terpaku pada seseorang yang telah pergi sehingga pada akhirnya tidak menyadari kehadiran seseorang yang datang membawa cinta yang lain.

"kuatkan hatimu wahai sang pencinta, berani mencintai berarti berani terluka karena cinta"


Bumi Cendrawasih, 25 Agustus 2011
MS